Kedai kopi ternama asal Amerika Serikat, Starbucks Corp, akan meluncurkan kopi kemasan instan. Kopi kemasan yang diberi nama Starbucks Natural Fusions ini ada tiga aroma, yakni vanila, karamel, dan aroma kayu manis.

Rencananya, perusahaan asal Seattle ini bakal menjual Starbucks Natural Fushions di toko-toko ritel pada bulan Juni nanti. Langkah Starbucks ini terbilang penting. Pasalnya, citra Starbucks sempat terpuruk setelah ratusan kedainya ditutup di negara Paman Sam lantaran terlalu berani ekspansi.

Makanya, untuk mengembalikan citra Starbucks, perusahaan ini sengaja merilis menu kopi yang biasa tersedia di rumah-rumah. Menurut riset yang dilakukan Starbucks, setiap orang Amerika meminum setidaknya empat cangkir kopi setiap hari. Sekitar 60% orang Amerika meminum kopi jenis instan seperti merek Folgers dan Maxwell House dominate, yang bakal menjadi pesaing berat Starbucks. Nantinya kemasan Natural Fusions bakal tersedia dalam kemasan 11 ons berbanderol US$ 8,99.

Keluarnya kopi kemasan ala Starbucks ini mengundang perhatian dari pengamat bisnis. Laura Ries, pimpinan Ries and Ries, sebuah perusahaan konsultan marketing asal Atlanta bilang, langkah Starbucks melakukan penurunan kualitas minuman kopi membuat konsumen menjadi bingung. “Langkah ini mengundang pertanyaan besar dari para konsumen,” katanya.

Namun pihak Starbucks membantahnya. Menurutnya, meski Starbucks bakal menjual kopi yang biasa terdapat di kedai kopi kelas dua, toh Starbucks mengklaim proses pembuatannya sama dengan proses pembuatan minuman kopi jenis lainnya. Misalnya, biji kopinya jenis arabika. “Meskipun Starbucks kini mulai mengeluarkan kopi jenis instan, kami tetap memberi rasa yang spesial dari secangkir kopi,” kata Annie Young-Scrivner, Chief Marketing Officer Starbucks.

Starbucks memang rela menurunkan gengsi demi mengejar pasar kopi instan di Amerika yang nilainya mencapai US$ 265 juta per tahunnya.
(tribunnews)
the cafe, coffee bean

Iklan

RAJA HIU PASAR MINGGU

September 20, 2010

Pasar Minggu, Jakarta Selatan –
Hmmm… mendengar nama ikan buas yang satu ini sebagian orang mungkin sudah bergidik ngeri. Bukan saja karena takut melihat atau membayangkan gigi tajam si pemangsa buas laut ini, tapi sebagian besar orang juga sudah terlanjur kenal dengan keganasan ikan hiu seperti yang populer digambarkan dalam film JAWS.

Bentuk mahluk laut satu ini sebenarnya tidaklah seseram saat setelah jadi olahan makanan laut yang tersaji di atas piring. Tapi ada saja imajinasi misterius bila kita membayangkannya bertemu sang ikan berpenampilan sangar ini kala dia hidup. Beranikah kelanakuliner menikmati sajian ikan hiu yang terkenal mendirikan bulu roma ini.

Hahahaha…. ternyata tak sebesar yang saya bayangkan. Lebih tepatnya Raja Hiu menyajikan olahan masakan ikan hiu berukuran kecil. Biarpun namanya Raja Hiu, kita tak akan bisa memesan masakan atau olahn ikan sebesar badan anak kecil apalagi memesan daging ikan hiu sebesar badan kita. Yah susah dan repot bawanya lah, ujar beberapa orang kru Raja Hiu.

Demi menikmati kuliner ekstrim khas makanan laut ini, kelanakuliner mau berpagi-pagi menemui sang pemilik sekaligus pengelola Raja Hiu, yakni pak Benny di Rumah Makan Raja Hiu yang berdampingan dengan Istana Es Puter & Soto Batok.

Kelanakuliner pun tiba di rumah makan tiga merk ini di kawasan Jl. Raya Tanjung Barat. Tepatnya beberapa meter sebelum Halte Bis Poltangan setelah melewati Terminal dan Stasiun KA Pasar Minggu. Rumah Makan yang telah diliput oleh Trans7, MNC, Global TV dan ANtv ini mulai buka dari jam 10.00 pagi, namun kesibukan para krunya sudah dimulai sejak jam 08.00 pagi. Tampaknya akan ada syuting dari acara TransTV, entah untuk program apa. Tapi kedatangan saya pun disambut oleh sang Chef, mas Johan, lelaki inilah yang bertanggung jawab atas semua masakan yang ada di 3 nama resto ini.

Sebuah konsep resto yang menyerupai pujasera, namun masing-masing nama merknya dikelola oleh satu manajemen. Istana Es Puter, Soto Batok (pertama di Indonesia) dan tentunya Raja Hiu. Jadi setiap hari kita tak akan bosan dengan menu-menu di tempat ini karena kita bisa punya banyak pilihan yang berbeda dalam setiap kunjungannya. Bayangkan saja, dari desain interior rumah makan kita sudah melihat beberpa merk

Khusus untuk sajian olahan ikan Hiu, kita diberi pilihan Hiu Bakar, Hiu Rica-Rica dan Hiu Asam Balado.

Hmmmm…. mendengarnya saja sudah terbit air liur. Seperti yang telah dijelaskan semula, bahwa penampilan semua menu ini sungguh berbeda jauh dari nama seram si ikan predator laut ini. Masalah rasanya? Coba saja Anda datang langsung ke tempat ini. Jangan lupa untuk memesan minuman khas Soto Batok, yakni Es Sop Buah atau Es Teler maupun Es Semaput. Untuk pelanggan dari kalangan anak-anak bisa menikmati Es Puter maupun Es Doger khas Istana Es Puter.

Tertarik menikmati sajian lengkap di tempat beraneka sajian ini? Sebaiknya Anda booking tempat untuk reservasi lebih dahulu, karna di khawatirkan anda akan kehabisan tempat duduk…hehehe…

Sumber    : satebangdibul
Lihat juga :
Nelayan restoran
Laguna
Sushi tei

Setiap orang pasti mempunyai makanan favorit yang mungkin berbeda dengan orang lain. Hal ini kadang menyulitkan kita dalam menentukan tempat sebagai meeting point. Kebanyakan, tempat makan yang ada hadir dengan spesialisasinya.

Namun, kebingungan itu akan sirna jika menjadikan The cafe sebagai pilihan. Selera makan yang bervariasi akan dimanjakan dengan ragam makanan dari berbagai belahan dunia.

Disajikan dengan model buffet, seluruh menu tertata rapi dalam ruang-ruang cantik dengan interior yang mengusung lima elemen. Anda bisa menikmati semua makanan sepuasnya.

Pengunjung bisa memilih Earth (Lifestyle Section) untuk menikmati berbagai minuman dan makanan ringan. Interior yang didominasi warna putih dan furniture yang klasik menjadikannya tempat yang pas untuk hang out.

Lalu Water (Pastry Section). Paduan warna putih dan biru dengan tema Lavender yang feminin juga bisa menjadi pilihan untuk bersantai. Beragam kue, es krim dan coklat bisa dinikmati di area ini. Salah satu yang wajib dicoba adalah Chocolate Liquid Centre.

“Harus dimakan panas-panas, biar bisa menikmati lelehan coklatnya di dalam kue,” kata Marsha Ariani, Assistant Communication Manager Hotel Mulia yang menemani saya siang itu.

Mmm…benar saja. Kue coklatnya memang sedap. Bertekstur lembut, ringan dengan rasa manis yang pas. Apalagi saat saya membelah kue pas di tengah sehingga mengalirkan lelehan coklat yang masih panas. Terpaan coklat cair yang panas di lidah bercampur dengan potongan kue yang lembut semakin menambah kenikmatan dalam menyantapnya.

Ruangan lain adalah hadir dengan tema Gold. Di sini, Anda dapat menemukan ragam makanan Asia dan Timur Tengah. Ada dimsum, mie ayam, aneka menu Indonesia, Thailand dan India. Saya mencoba menu India karena jarang mencicipinya. Marsha menyarankan saya menjajal nasi special dari India, Safron Rice. Bentuknya agak berbeda dengan nasi Indonesia. Lebih langsing dan lebih panjang. Untuk rasa, tidak jauh berbeda dengan nasi dalam negeri.

Sebagai menu pendamping nasi, saya memilih Samala Chicken, ayam bumbu kare spesial dari India. Ayamnya empuk, kuah karenya pun sedap dan tidak terlalu pedas. Kental tapi segar karena diolah tanpa santan.

Tepat bersebelahan dengan Gold, ada ruangan bertajuk Wood. Bagian ini khusus menyajikan masakan Jepang. Apalagi kalau bukan aneka sushi dan sashimi. Wow, salah satu makanan kegemaran saya.

Sesuai dengan tema, Wood menghadirkan suasana natural dengan model Japanese Kitchen yang didominasi kayu dan batu. Salmon segar dan beberapa jenis sushi menjadi pilihan saya. Benar-benar fresh dan yummy.

Puas menikmati sushi, saya beralih ke elemen terakhir, Fire yang menyajikan aneka menu barat. Sentuhan warna merah dan kuning menjadikan ruangan ini elegan dan modern. Saya memilih pasta panggang dan spaghetti seafood. Karena perut mulai terasa penuh, saya meminta porsi kecil saja, sekedar untuk mencicipinya. Mmm…pasta panggangnya oke. Lembut dan gurihnya begitu terasa.

“Selain buffet yang harganya Rp. 169.000++. Tetapi ada juga kok ala carte dengan harga bervariasi mulai Rp. 30.000-an,” terang Marsha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Sudah dua jam lebih saya di The Cafe bersama Marsha menikmati berbagai makanan. Pantas saja perut ini sudah terasa penuh. Tetapi puas rasanya…

Sumber : nasional.kompas
Lihat juga :
Starbucks
Coffee bean

Resto seafood ini terbukti kualitasnya. Karena sudah banyak di datangi artis-artis, diliput TV, termasuk Bondan Winarno dari wisata kuliner di transTV. Resto ini terletak di jalan alternatif cibubur, tepatnya ada di rusa kiri jalan searah keluar dari tol cibubur.

Dapur Seafood tidak seperti resto seafood lainnya. karena tidak dilengkapi gubuk-gubuk untuk lesehan, tepatnya murni resto. Disini juga tersedia lalapan yang bisa diambil sepuasnya alias gratissssss….

Untuk makan disini sediakan kurang lebih Rp 300.000 untuk satu keluarga 4-5 orang. Yang menjadi andalan resto ini adalah kepiting bakarnya yang dibumbui rempah-rempah dan pedas.Udang pedas bakarnya pun sangat enak, disajikan dengan tusukan sate dan bumbu yang kental dan meresap. Dijamin bakal balik lagi karna rasanya memang bener-bener enak dan mengenyangkan.

Rekomendasi :

Udang Galah pedas bakar per ons Rp. 18.500

Kepiting bakar Rp. 80000 an per ekor

Gurame goreng legian kira-kira per ons Rp. 20.000

Cah kangkung balcan kurang lebih Rp. 10.000

Sumber : gilajalan

Lihat juga :

Nelayan Resto

Marzano

Table8

Lezatnya Sup Seafood

September 15, 2010

Sup SEAFOOD adalah pilihan hidangan yang lezat dan mudah disajikan. Selain lezat, kandungan beragam zat nutrisi dalm daging seafood membatu kita menjaga kesehatan. Anda tertarik ingin membuat sup seafood? Simak resep berikut.

Bahan
300 gr cumi, bersihkan, potong kotak 3 cm, kerat-kerat
200 gr udang, kerat punggungnya
5 bh crub stick, iris 3 cm
150 gr tahu cina, potong kotak 2 cm
100 gr caisim, bersihkan
1 btg daun bawang, potong 1 cm
1000 ml air kaldu
minyak untuk menumis
sereh goreng untuk taburan

Haluskan
3 siung bawang putih, iris halus
1/2 sdt garam
1 sdt lada bubuk
1/4 sdt pala bubuk

Cara Membuat
1. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum. Angkat, sisihkan.
2. Didihkan air kaldu, tuang tumisan bumbu ke dalamnya. Tambahkan tahu, biarkan hingga mendidih.
3. Masukkan cumi, udang, crub stick, dan daun bawang.
4. Masak hingga mendidih dan matang. Tambahkan caisim, aduk sebentar. 5. Angkat, sajikan. Taburi bawang goreng di atasnya.
Untuk 6 porsi

sumber: resepmasakanindonesia (teks) taste (foto)

Lihat juga:
Sushi
Pasta

Satay (pronounced /ˈsæteɪ/ SA-tay) or SATE is a dish of marinated, skewered and grilled meats, served with a sauce.Satay may consists of diced or sliced chicken, goat, mutton, beef, pork, fish, tofu, or other meats; the more authentic version uses skewers from the midrib of the coconut leaf, although bamboo skewers are often used. These are grilled or barbecued over a wood or charcoal fire, then served with various spicy seasonings.

Satay may have originated in Java or Sumatra, Indonesia. Satay is available almost anywhere in Indonesia; it has become a national dish of Indonesia. It is also popular in many other Southeast Asian countries, such as: Malaysia, Singapore, Brunei, Thailand, the southern Philippines and in the Netherlands, as Indonesia is a former Dutch colony.

Satay is a very popular delicacy in Indonesia and Malaysia; Indonesia’s diverse ethnic groups’ culinary art (see Cuisine of Indonesia) have produced a wide variety of satays. In Indonesia, satay can be obtained from a travelling satay vendor, from a street-side tent-restaurant, in an upper-class restaurant, or during traditional celebration feasts. In Malaysia, satay is a popular dish – especially during celebrations – and can be found throughout the country. Close analogues are yakitori from Japan, shish kebab from Turkey, chuanr from China and sosatie from South Africa.
Turmeric is a compulsory ingredient used to marinate satay, which gives the dish its characteristic yellow colour. Meats commonly used include beef, mutton, pork, venison, fish, shrimp, squid, chicken, and even tripe. Some have also used more exotic meats, such as turtle, crocodile, and snake meat.

Satay may be served with a spicy peanut sauce dip, or peanut gravy, slivers of onions and cucumbers, and ketupat (rice cakes). Pork satay can be served in a pineapple-based satay sauce or cucumber relish. An Indonesian version uses a soy-based dip. Satay is not the same as the Vietnamese condiment sate, which typically includes ground chili, onion, tomato, shrimp, oil, and nuts. Vietnamese sate is commonly served alongside noodle and noodle-soup dishes.

source: wikipedia (text) locombia (picture)

See also:
Ice Cream
Ramen

Kisah Awal Ramen

September 15, 2010

Menurut catatan sejarah Tokugawa Mitsukuni (Mito Komon) sering disebut sebagai orang Jepang yang pertama kali makan RAMEN. Masakan mi kuah ala Cina pertama kali dihidangkan untuk Tokugawa Mitsukuni. Pembuatnya adalah seorang ilmuwan Konghucu dalam pengasingan dari Dinasti Ming yang diundang untuk datang ke Domain Mito.

Ramen diperkirakan mulai dinikmati rakyat banyak pada zaman Meiji. Pada waktu itu, ramen sudah masuk ke dalam menu berbagau rumah makan di kawasan permukiman keturunan Cina di Kobe dan Yokohama. Setelah itu, pada zaman Taisho, penjual mi di Hokkaido sudah menjual ramen seperti ramen yang dikenal orang sekarang ini.

Di Jepang, mi kuah umumnya terdiri dari dua aliran berikut. Aliran pertama, yaitu mi kuah dalam menu rumah makan yang dikelola imigran dari Cina, misalnya mi kuah dengan tauge, mi kuah tanpa lauk (tanmen), mi pangsit kuah, atau mi ala Kanton. Ramen dengan rasa miso atau rasa shio juga dicantumkan dalam menu.

Aliran kedua, mi kuah oleh pedagang kaki lima di waktu malam yang kemudian membuka rumah makan ramen. Pedagang kaki lima yang berkeliling menjajakan ramen dengan gerobak dorong sudah ada di Jepang sejak zaman Edo. Penjual ramen berkeliling memakai gerobak sambil meniup terompet charamela. Lagu yang dibunyikan adalah nada “sol la si – sol la – sol la si la sol la -“. Oleh karena itu, penjual ramen keliling dalam bahasa Jepang sering disebut charamela. Pedagang keliling zaman sekarang sudah menggunakan pemutar rekaman sebagai pengganti charamela.

Selain itu, pedagang ramen sering menggunakan mobil dan membawa kursi untuk berdagang di tempat ramai. Setiap daerah atau kota di Jepang biasanya memiliki masakan ramen khas yang dipakai sebagai daya tarik pariwisata. Tradisi ramen lokal berasal dari usaha membangkitkan perekonomian daerah pada tahun 1980-an. Salah satu di antaranya dengan mempromosikan keunikan ramen khas masing-masing daerah di Jepang.

Promosi juga dilakukan lewat artikel di berbagai majalah. Salah satu promosi yang dianggap paling berhasil adalah promosi sapporo ramen. Wisatawan dalam negeri beramai-ramai mengunjungi Hokkaido untuk makan sapporo ramen. Keunikan ramen khas daerah memiliki nilai komersial yang tinggi. Di Jepang terdapat banyak sekali buku-buku laris mengenai ramen. Biro perjalanan juga menawarkan paket wisata untuk berkeliling menikmati ramen dari penjual ramen terkenal.

Sumber: wikipedia

Lihat juga:
Ice Cream
Sate