Ini Dia Si Hijau yang Pedas

September 6, 2010


Hijau, agak pedas, pasta, sushi. Kata-kata itulah yang paling cocok menggambarkan apakah wasabi itu. Pertama kali ‘bertemu’ wasabi adalah pada saat aku memakan sushi. Pada saat awal mencoba, seorang temanku sudah me-warning untuk jangan memakannya terlalu banyak karena rasanya yang pedas, tapi pada saat aku merasakannya aku masih tetap merasa bahwa wasabi ini tidak sepedas yang aku bayangkan. Ya … mungkin karena sudah terbiasa mengkonsumsi cabe yang lebih pedas

Setelah sering kali aku memakan wasabi (with sushi of course), aku akhirnya merasa penasaran apa sih sebetulnya wasabi itu. Terbuat dari apakah dia? apakah warna hijau itu alami atau pewarna? dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku browsing kesana kemari berusaha mencari keterangan tentang wasabi ini dalam bahasa Inggris atau Indonesia (karena pas googling kebanyakan yang muncul page dalam bahasa Jepang).

Ternyata wasabi ini adalah pasta yang pada awalnya dibuat dari tumbuhan dengan nama yang sama (red = tumbuhan wasabi), yang termasuk dalam jenis tumbuhan kubis-kubisan (cabbage family atau Brassicaceae). Uniknya, yang kemudian diolah menjadi pasta bukan daunnya tetapi malah akar rimpang/ rizoma-nya. Karena pembudidayaannya yang cukup sulit (hanya hidup di aliran air yang bersih dan sejuk bersuhu 10-17℃) dan hanya bisa dipanen dalam waktu 3- 4 tahun, harga wasabi ini sangat mahal. Bahkan, agak kebutuhan wasabi masyarakatnya terpenuhi, Jepang mengimpor sejumlah besar wasabi dari daratan Tiongkok, Taiwan, dan Selandia Baru.

Buka juga:

Loewi

Table 8

Sushi Tei

Iklan

jagonya sushi

September 3, 2010

Ahli sushi (sushi shokunin) adalah sebutan terhormat ahli sushi di restoran sushi tradisional. Di Jepang, ahli sushi merupakan profesi terhormat dengan penghasilan tinggi.

Ahli sushi pada umumnya adalah pria, dan wanita hampir tidak pernah diberi kesempatan. Di restoran sushi, jenis kelamin laki-laki adalah syarat tidak tertulis untuk menjadi ahli sushi. Tradisi ini berasal dari tradisi kuno Jepang yang menempatkan laki-laki pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Walaupun demikian, alasan yang lebih masuk akal adalah suhu tubuh pria yang umumnya lebih rendah dari suhu tubuh wanita. Perubahan fisiologis setiap bulan yang dialami wanita menyebabkan wanita tidak sesuai untuk memegang makanan laut mentah yang rasa dan warnanya mudah dipengaruhi suhu tubuh orang yang memegang.

Di Jepang, ahli sushi wanita umumnya tidak disukai pengunjung restoran sushi. Selain itu, pertimbangan higienis yang tidak jelas asal-usulnya menjadikan ahli sushi tetap merupakan didominasi pria. Walaupun demikian, wanita ahli sushi mulai banyak dipekerjakan di kaitenzushi. Mereka dilarang keras menggunakan kosmetik yang mengandung parfum atau mengecat kuku.

Menurut cerita yang suka dibesar-besarkan, syarat bagi ahli sushi untuk bisa mandiri adalah pengalaman magang paling sedikit 10 tahun, mencakup pelajaran mengepal (nigiri) 3 tahun dan pelajaran menggulung (maki) 8 tahun. Persyaratan formal untuk menjadi ahli sushi sebenarnya tidak ada. Sebagian besar karier ahli sushi justru dimulai sebagai buruh yang dibayar per jam. Keterampilan memilih ikan segar di pasar memang memerlukan pengalaman selama bertahun-tahun. Namun, keterampilan mengepal nasi sudah dikuasai oleh robot pembuat sushi.

Sumber: Wikipedia

Lihat juga:

Steak

Dim Sum

Wine

kenapa namanya sushi?

September 3, 2010

Sushi (鮨, 鮓, atau biasanya すし, 寿司?) adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak.[1] Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Asal-usul kata sushi adalah kata sifat untuk rasa masam yang ditulis dengan huruf kanji sushi (酸し?). Pada awalnya, sushi yang ditulis dengan huruf kanji 鮓 merupakan istilah untuk salah satu jenis pengawetan ikan disebut gyoshō (魚醤?) yang membaluri ikan dengan garam dapur, bubuk ragi (麹, koji?) atau ampas sake (糟, kasu?). Penulisan sushi menggunakan huruf kanji 寿司 yang dimulai pada zaman Edo periode pertengahan merupakan cara penulisan ateji (menulis dengan huruf kanji lain yang berbunyi yang sama).

Sushi merupakan makanan dari nasi dan makanan laut mentah yang mudah busuk. Makanan ini dibentuk dengan tangan yang tidak mengenakan sarung tangan. Menempelnya berbagai macam mikroba pada sushi adalah sulit untuk dihindari. Sushi yang dibeli untuk dibawa pulang di musim panas atau di negara beriklim tropis harus segera dimakan agar tidak menyebabkan sakit perut.

Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, memegang-megang makanan dengan tangan telanjang dianggap tidak higienis. Pembuat sushi diharuskan memakai sarung tangan dari karet atau plastik. Sebaliknya, orang Jepang kehilangan selera bila melihat pembuat sushi sedang membuat sushi sambil mengenakan sarung tangan. Walaupun demikian, sushi di toko-toko swalayan di Jepang umumnya dibuat dengan memakai sarung tangan.

Sumber: wikipedia

Liat juga:

Seafood

Pasta